KEHIDUPAN RAYAP SEBAGAI SERANGGA SOSIAL
Rayap adalah serangga sosial yang hidup dalam suatu komunitas yang disebut koloni. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk hidup lebih lama bila tidak berada dalam koloninya. Komunitas tersebut bertumbuh efisien dengan adanya spesialisasi (kasta) dimana masing-masing kasta mempunyai bentuk dan peran yang berbeda sesuai dengan fungsinya masing-masing yaitu kasta prajurit,kasta pekerja dan kasta reproduktif (Nandika et al 2003).
Rayap adalah serangga-serangga sosial pemakan selulosa yang termasuk ke dalam ordo Isoptera, secara relatif kelompok kecil dari serangga yang terdiri kira-kira 1900 jenis di dunia. Mereka hidup dalam masyarakat-masyarakat dengan organisasi yang tinggi dan terpadu, atau koloni-koloni, dengan individu-individu yang secara morfologis dibedakan menjadi bentuk-bentuk berlainan atau kasta-kasta yaitu reproduksi, pekerja, dan serdadu (prajurit) yang melakukan fungsi biologis yang berbeda. Sayap-sayap (hanya pada kasta reproduktif) berjumlah empat dan berselaput tipis.
Sayap-sayap depan dan belakang hampir sama ukurannya, sungut-sungutnya berbentuk untaian seperti merjan atau berbentuk serabut. Bagian-bagian mulut rayap pekerja dan reproduktif adalah tipe pengunyah. Metamorfosis rayap cukup sederhana. Nimfa-nimfa mempunyai kemampuan untuk berkembang menjadi salah satu dari kasta-kasta tersebut. Percobaan-percobaan telah menunjukkan bahwa hormon-hormon dan feromon-feromon penghambat yang disekresikanoleh rayap reproduktif dan serdadu (prajurit) mengatur perbedaan kasta (Borror et al 1992).
Fungsi reproduktif dalam masyarakat rayap dilakukan oleh rayap reproduktif primer yaitu raja dan ratu, umumnya sepasang untuk satu koloni yang terbentuk dari dewasa yang bersayap sepenuhnya (macropteous). Mereka bersklerotisasi keras dan memiliki mata-mata majemuk. Raja biasanya kecil, berukuran 1-2 cm, tetapi dalam banyak jenis ratu mengembangkan abdomennya yang membesar sebagai akibat kapasitas bertelur yang meningkat, dan pada beberapa jenis tropika dapat mencapai satu ukuran sebesar 11 cm (Borror et al 1992).
Rayap dikelompokkan dalam tujuh famili yaitu Mastotermitidae, Kalotermitidae, Termopsidae, Hodotermitidae, Rhinotermitidae, Serritermitidae dan Termitidae. Enam keluarga pertama sebagai rayap tingkat rendah dan keluarga Termitidae sebagai rayap tingkat tinggi. Di dalam usus belakang rayap tingkat rendah terdapat protozoa yang berperan sebagai symbiont dalam proses penghancuran selulosa. Di dalam kelompok rayap tingkat tinggi, peranan protozoa digantikan oleh bakteri (Supriana 1984).
Menurut Tambunan dan Nandika (1982), dalam hidupnya rayap mempunyai empat sifat yang khas, yaitu trofalaksis; sifat rayap untuk berkumpul saling menjilati serat dan mengadakan pertukaran bahan makanan, kriptobiotik; sifat rayap yang selalu menjauhi cahaya. Sifat ini tidak berlaku pada rayap bersayap (calon kasta reproduktif) dimana mereka selama periode pendek di dalam hidunya memerlukan cahaya, kanibalistik; sifat rayap untuk memakan individu sejenis yang lemah atau sakit. Sifat ini lebih menonjol bila rayap berada dalam keadaan kekurangan makanan, dan necrophagistik; sifat rayap untuk memakan bangkai sesamanya.
Rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren merupakan spesies yang paling penting sebagai hama bangunan. Serangannya pada bangunan terjadi hampir di seluruh kota besar di Indonesia, dengan nilai kerugian ekonomis yang sangat besar. Prajurit rayap ini memiliki pertahanan diri yang khas, yaitu mengeluarkan sekresi kimia yang mengandung racun dalam mengusir atau membunuh musuh.
Koloni rayap di alam terdiri dari tiga kasta yang memiliki fungsi yang berbeda. Kasta pekerja, umumnya berjumlah paling banyak dalam koloni berperan sebagai pencari dan pemberi makan bagi seluruh anggota koloni. Kasta reproduktif (ratu) berperan dalam perkembangbiakan. Makanan dari kasta pekerja disampaikan kepada kasta serdadu (prajurit) dan kasta reproduktif melalui anus atau melalui mulut (Supriana 1984).
Kasta-kasta pekerja dan prajurit, terdiri dari kedua jenis kelamin, mandul, tidak bersayap, pada kebanyakan jenis buta, dan pada beberapa jenis polimorfik, yaitu memiliki ukuran yang berbeda. Kasta pekerja yang merupakan jumlah terbanyak dalam sebuah koloni memiliki tubuh yang pucat, lunak, dengan bagian-bagian mulut yang diperuntukkan untuk mengunyah. Mereka melakukan kebanyakan tugas dari koloni diantaranya pembuatan dan perbaikan sarang, mencari makan, memberikan makan dan merawat anggota-anggota lain dari koloni tersebut. Pada famili-famili yang primitif kasta pekerja yang sebenarnya tidak ada, dan fungsinya dilakukan oleh nimfa-nimfa yang tidak bersayap yang disebut pseudergata, yang dapat berganti kulit dari waktu ke waktu tanpa perubahan dalam ukuran (Borror et al 1992).
Rayap prajurit mempunyai kepala sangat bersklerotisasi, memanjang, hitam dan besar, yang diperuntukan dalam berbagai bentuk pertahanan. Pada prajurit dari kebanyakan jenis, mempunyai mandibel-mandibel yang panjang, sangat kuat, memiliki kait, dan dimodifikasi untuk memotong dengan cara seperti gunting untuk memotong kepala, memotong anggota tubuh, atau merobek musuh-musuh maupun para pemangsa (Afifuddin 2000).
Pada pengamatan perilaku agonistik, dua individu rayap yang di ambil dari dua koloni yang berbeda ditempatkan dalam satu tempat. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan perilaku agonistik rayap terdiri dari tiga tahap, yaitu saling berhadapan, membuka mandibula, dan saling menyerang. Mula-mula kedua rayap tidak saling menyerang karena jarak masih jauh dan tidak saling mengenal. Setelah saling berdekatan, kedua rayap mulai mengenali rayap yang berasal dari koloni yang berbeda. Kemudian kedua rayap mulai saling berhadapan dan membuka mandibulanya yang panjang dan sangat kuat sebagai perilaku pertahanan. Selanjutnya kedua rayap saling menyerang sampai salah satu dari individu rayap kalah (mati) atau melarikan diri. Hal tersebut sesuai dengan literatur.
Pembuatan lorong kembara yang diamati berlangsung selama 6 menit 9 detik. Rayap yang melakukan perbaikan pada lorongnya adalah rayap dengan kasta pekerja. Mula-mula sarang rayap dirusak sepanjang 1 cm, kemudian diamati proses pembangunan kembali lorong kembara dengan menggunakan handycam sampai lorong kembara kembali utuh.
Afifuddin Y. 2000. Keawetan Kayu Plastik Polivinil Stirena terhadap Serangan Rayap Kayu Kering (Cryptotermes cynocephalus Light) dan Rayap Tanah (Coptotermes curvignathus Holrngren). Fakultas Kehutanan. Bogor: IPB-Press.
Borror Dj, Triphelorn, Johnson NF. 1992. Pengenalan Serangga Edisi 6 (terjemahan). Yogyakarta: UGM-Press.
Supriana N. 1984. Perilaku Rayap. Badan Pengembangan dan Penelitian Departemen Kehutanan. Bogor: IPB-Press.
Tambunan B, Nandika D. 1989. Deteriorasi Kayu oleh Faktor Biologis. Bogor: IPB-Press.
IDENTIFIKASI DNA EUKARIOT
Keanekaragaman genetik pada makhluk hidup sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Begitu pula pada eukariot. Hal tersebut disebabkan karena adanya sistem reproduksi seksual yang memungkinkan gen-gen tetua diwariskan kepada keturunannya dengan mengalami pindah silang (rekombinasi). Selain itu, faktor mutasi juga sangat berperan dalam menciptakan keragaman. Variasi genetik yang terjadi pada suatu komunitas bersumber dari proses mutasi. Kemampuan mutasi yang cepat antara 0-8 x 10-3 (Weber & Wong 1993) atau 0.21% tiap gamet tiap generasi pada DYS19 (Holtkemper et al. 2001).
Meskipun demikian, masih ada cara yang dapat digunakan untuk membedakan individu yang satu dengan yang lainnya yaitu DNA fingerprint. DNA fingerprint dapat diperoleh dari beberapa bagian tubuh manusia, salah satunya adalah sel-sel mukosa yang ada di permukaan mulut bagian dalam. Penelitian menggunakan DNA untuk mengetahui keragaman genetik pada masyarakat Bali dilakukan Junitha dan Sudirga (2006) yang menggunakan sel-sel mukosa mulut sebagai sumber DNA yang akan dianalisis.
Holtkemper U, Rolf B, Hohoff C, Foster P, Brinkmann B. 2001. Mutation rate at two human Y-chromosomal microsatellite loci using small pool PCR techniques. Hum Mol Genet 10:629-633.
Junitha IK, Sudirga SK. 2006. Variasi DNA mikrosatelit kromosom Y pada masyarakat Bali Mula Trunyan. Hayati 2: 59-64. Universitas Udayana.
Weber J, Wong C. 1993. Mutation of human short tandem repeats. Hum Mol Genet 2:1123-1128.
Identifikasi DNA Patogen (Prokariota)
Berbeda dengan hewan atau tumbuhan, penentuan definisi spesies pada prokaryota tidak mudah. Parameter yang dengan mudah digunakan untuk kelompok organism lain sulit untuk diterapkan pada prokaryota. Prokaryota memiliki karakter khusus, berukuran mikroskopis dan memiliki struktur yang relatif sederhana. Beberapa definisi spesies untuk prokaryota dibuat berdasarkan parameter fenotipe dan genotipe untuk menggambarkan kekerabatan secara filogeni. Konsep spesies filogenetik lebih sesuai untuk diterapkan pada prokaryota dibandingkan dengan konsep spesies biologi karena kelompok ini bereproduksi secara aseksual. Definisi spesies untuk prokaryota yang diterima secara luas sampai saat ini adalah suatu kategori yang membatasi suatu kelompok dari isolat atau galur individual yang memiliki derajat kesamaan tinggi pada banyak ciri independen, terutama jika koheren secara genomik (Rosello-Mora dan Amann 2001). Perbandingan harus dilakukan dalam suatu uji yang terstandardisasi dengan baik.
Pendekatan genomik lebih sering digunakan untuk penentuan spesies pada prokaryota. Pendekatan ini memungkinkan juga untuk menganalisis spesies-spesies yang tidak dapat dikulturkan di laboratorium. Kemajuan teknologi telah memungkinkan untuk melakukan isolasi DNA atau RNA langsung dari sampel yang diperoleh langsung dari lingkungan, sehingga dapat diperoleh gambaran yang menyeluruh untuk suatu komunitas. Selain itu juga dimungkinkan untuk melakukan hibridisasi DNADNA secara in situ (Pangastuti 2006).
Di antara berbagai teknik yang digunakan, RNA ribosomal paling banyak digunakan sebagai penanda molekuler. Pada prokaryota terdapat tiga jenis RNA
ribosomal, yaitu 5S, 16S, dan 23S rRNA. Di antara ketiganya, 16S rRNA yang paling sering digunakan. Molekul 5S rRNA memiliki urutan basa terlalu pendek, sehingga tidak ideal dari segi analisis statistika, sementara molekul 23S rRNA memiliki struktur sekunder dan tersier yang cukup panjang sehingga menyulitkan analisis. Analisis gen penyandi 16S rRNA telah menjadi prosedur baku untuk menentukan hubungan filogenetik dan menganalisis suatu ekosistem. Molekul 16S rRNA dapat digunakan sebagai penanda molekuler karena molekul ini bersifat ubikuitus dengan fungsi yang identik pada seluruh organisme.
Molekul ini juga dapat berubah sesuai jarak evolusinya, sehingga dapat digunakan sebagai kronometer evolusi yang baik. Molekul 16S rRNA memiliki beberapa daerah yang memiliki urutan basa yang relatif konservatif dan beberapa daerah urutan basanya variatif. Perbandingan urutan basa yang konservatif berguna untuk mengkonstruksi pohon filogenetik universal karena mengalami perubahan relatif lambat dan mencerminkan kronologi evolusi bumi. Sebaliknya, urutan basa yang bersifat variatif dapat digunakan untuk melacak keragaman dan menempatkan galur-galur dalam satu spesies. Jika urutan basa 16S rRNA menunjukkan derajat kesamaan yang rendah antara dua taksa, deskripsi suatu takson baru dapat dilakukan tanpa hibridisasi DNA-DNA (Stackebrandt dan Goebel, 1995). Biasanya jika derajat kesamaan urutan basa gen penyandi 16S rRNA kurang dari 97% dapat dianggap sebagai spesies baru.
Daging merupakan salah satu sumber makanan yang memiliki kandungan nutrisi yang baik namun bersifat mudah rusak (perishable) akibat proses mikrobiologis, kimia dan fisik bila tidak ditangani dengan baik. Penggunaan rempah-rempah seperti bawang putih dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk pada daging karena memiliki senyawa antimikroba yang disebut allicin. Dari berbagai literatur diketahui bahwa senyawa Allicin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk pada daging seperti Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli. Kedua bakteri ini selain membusukkan daging juga merupakan bakteri enteropatogen yang dapat berbahaya jika ikut dikonsumsi (Buana 2009)
Daftar Pustaka
Buana RFN. 2009. Daya antibakteri ekstrak bawang putih (Allium sativum) dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli pada daging sapi
Pangastuti A. 2006. Definisi spesies prokaryota berdasarkan urutan basa gen penyandi 16s rRNA dan gen penyandi protein. Biodiversitas 7: 292-296.
Rosello-Mora, R. and R. Amann. 2001. The species concepts for procaryotes. FEMS Microbiology Review 25: 39-67.
Stackebrandt, E. and B.M.Goebel. 1995. A place for DNA-DNA reassociation and 16S rRNA sequence analysis in the present species definition in
bacteriology. International Jurnal of Systematic Bacteriology 44: 846-849.
Sebuah Percakapan di Hari Jumat (Untuk Orang-Orang yang Sedang Dilanda Bingung)
Pada satu hari Jumat, sekitar jam 9 pagi, aku berada di sebuah kendaraan. Ketika itu, aku sedang melamun, tepatnya berpikir. Ada temanku yang menyertaiku agak heran denganku yang sejak tadi hanya melamun saja melihat ke jendela sebuah mobil angkutan umum. Terjadilah sebuah percakapan di dalam angkutan umum.
Temanku itu pun bertanya : ” Kenapa San?”
Aku pun spontan menjawab : ” Lagi bingung nih.”
Temanku bertanya lagi : ” Bingung kenapa?”
Ihsan (Aku) : ” Bingung mikirin kuliah nih.”
Teman : “Oooh. Ah, ga perlu sebingung itu. Nanti juga pasti ada jalan keluarnya kalo sudah waktunya.”
Ihsan (Aku) : “Ya iya sih. Tapi kalo dipikir-pikir, kok bongung itu seperti tidak ada habisnya ya?
Sekarang mikirin kuliah, trus kamu bilang gitu, muncul lagi rasa bingung,trus kalo ban mobil ini bocor, muncul lagi bingung, malahan orang yang ga ada di tempat ketika ban mobil ini bocor pun bisa ikutan bingung. Mikirin itu semua jadi banyak bingung.”
Teman : “Gini aja. Kalo nanti kamu bisa ngilangin rasa bingung itu, kita buka praktek pengobatan bingung aja San!”
Ihsan : ” Haha..Iya juga ya. Tapi nanti dulu. Kalo ada yang ngerjain kita gimana?
Yah, ngerjainnya kayak gini. Orang-orang yang punya penyakit bingung itu tahu kalo kita buka praktek, trus mereka punya pikiran ” kita ga usah dateng ke tempat pengobatan bingung itu, pasti nanti lama-lama ahli pengobatan bingung itu akan jadi bingung juga. Soalnya di zaman sekarang ini banyak orang bingung, tapi kok ga ada yang mau berobat kemari yak”
Teman : “Hahaha. Iya juga ya. Nanti kita malah diketawain sama pasien-pasien ya.”
Akhirnya percakapan kami terhenti karena sudah sampai di tempat tujuan.
Ini hanya sekedar peringatan bagi kita semua, bahwa semua pertanyaan ada jawabannya, semua penyakit ada obatnya, dan semua rasa bnigung ada jalan keluarnya jika waktunya telah tiba. Selamat menikmati rasa bingung!…
Sanguinis yang Populer
Sangiunis yang populer memasuki pesta dengan mulut terbuka, mencari pendengar. Sementara dia bicara dengan ribut untuk menarik perhatian terhadap kedatangannya, tangannya selalu bergerak. Kalau sanguinis yang populer harus duduk, dia akan mengeliat-geliat, mengetuk-ngetukkan kaki, mengetul-ngetuk dengan jarinya-apa saja dan bukannya duduk diam-diam.
Dia tidak bisa hanya beristirahat diam-diam dan rileks. Dia selau mencari pendengar berikutnya dan akan meninggalkan anda di tengah-tengah cerita anda yang paling bagus untuk menghampiri seorang teman lain yang baru saja masuk. Dia bahkan tidak menyadari bahwa dia berlaku kasar karena dia tidak mendengarkan dan tidak memperhatikan bahwa Anda sedang bicara. Dalam esta, sanguinis yang populer akan berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya, dan tingkat kebisingan akan menunjukkan di mana dia berada. Wanita Sanguinisnyang populer akan masuk dengan pelukan, ciuman, pekikan, dan suara tertawa, dan sementara dia bicara, dia akan memegangi tangan pendengarnya erat-erat, supaya tidak lari sebelum dia sampai ke kalimat yang penting. Kalau anda melihat seseorang yang bersuara keras, suak bicra, dan penuh semangat hidup memasuki ruangan, mungkin anda melihat seorang sanguinis yang populer.
Sanguinis yang populer bicara secara ekstrim dan bersemangat tanpa perlu ada hubungannya dengan kebenaran. Sanguinis yang populer merasa bhwa kalau dia mendengar cerita membosankan yang harus diteruskannya, merupakan hal yang logis baginya untuk sedikit membesar-besarkannya, sehingga anda akan mendengar kisah dalam bentuk yang lebih baik daripada ketika dia menerimanya,
Apapun yang dikatakan oleh sanguinis yang populer, itu akan dibesar-besarkan dan menyenangkan, dan anda tidak akan mendapat kesulitan mendengarkannya. Begitu anda melihat seorang sanguinis yang populer, anda bisa membuat keputusan yang cepat. Kalau anda ingin dihibur, anda boleh tetap tinggal. Kala anda sendiri ingin bicara, cepat-cepatlah lari ke ruangan lainnya dan menemukan seorang phlegmatis yang damai yang pendiam dan akan mau mendengarkan.
KEJENIUSAN IMAM SYAFI’I
Diantara imam yang empat, maka imam Syafi’i yang banyak mempunyai banyak nilai lebih. Otaknya jenius, semua yang dituturkan dari mulutnya ibarat intan mutiara. Rekannya sendiri imam Ahmad mengakui kecerdasan imam Syafi’i. Beliau mempunyai seorang anak gadis yang taat beribadah. Puasanya tak pernah tinggal dan akhlaknya cukup tinggi. Salah satu kegemarannya adalah membaca atau mendengar kisah orang-orang shaleh dan ketinggian ilmunya. Zubaidah merasa kagum dengan orang-orang semacam itu. Ayahnya sering menyebut-nyebut nama imam Syafi’i. Beliau sangat dikagumi ayahnya, sehingga Zubaidah ikut pula mengagumi imam yang sangat terkenal itu. Di balik itu, ia pun ingin sekali melihat bagaimana benar wajah manusia besar itu.
Zubaidah menggambarkan Imam itu sebagai manusia yang serba istimewa, pendek kata tidak sama dengan manusia biasa. Pada suatu hari tibalah suatu kesempatan bagi Zubaidah untuk mengenal imam itu dari dekat. Beliau datang bertamun ke rumah Imam Ahmad, sahabatnya.
“Hai Zubaidah.” Ujar Imam Ahmad kepada anaknya. “Besok imam Syafi’i yang kau kagumi akan datang bertemu ke rumah kita. Bahkan beliaun akan menginap di rumah kita satu malam. Sediakanlah makanan dan kamar untuk istirahat beliau”.
Zubaidah sangat tercengang. Dadanya berdebar-debar. KIni datang kesempatan untuk orang besar yang dikaguni ayahnya. Dia sendiri dan rakyat banyak. Ia merasa mendapat kehormatan, karena imam yang masyhur itu akan mampir ke rumahnya dan akan menginap pula. Dengan demikian, ia akan bisa melihat dari dekat tentang bagaiman cara kehdupan imam itu.
Setelah berpikir sejenak, Zubaidah berkata :” Jadi kita sembelih seekor kibas kita ayah…? Dan sayang sekali kita tidak mempunyai alas tidur dengan kain sutera, serta perlengkapan-perlengkapan mewah lainnya…?
Imam Ahmad tertawa…:”Untuk apa menyembelih kibas. Apa yang kita makan itu pula yang dimakan oleh imam itu. Dan untuk apa seprei sutera, dia pun tidur seperti kitajuga. Bahkan di atas tikar pun jadi jika terpaksa. Bersedialah sebagaimana biasa, hanya tentu lebihkan sedikit untuk satu orang.”
O…,jadi imam yang berotak jenius itu sama saja dengan ayah, tak ada keistimewaan apa-apa. Saya mengira bhwa imam itu akan sanggup menghabiskan seekor kibas..” sahut Zubaidah.
Imam Syafi’i. Ia berjenggot. Ia memakai baju gamis seperti ayahnya juga. Semua sama dengan ayahnya. Malahan ayah (Zubaidah) lebih gagah sedikit. Kelihatannya imam terkenal itu kurang terurus.
Hampir-hampir saja hilang rasa kekagumannya terhadap imam yang menjadi buah bibirnya, tidak ada kehidupan keistimewaan padanya. Makannya pun sedikit. Ketika diperkenalkan kepada Zubaidah. Gadis itu sedikit gemetar. Perkataannya tegas dan suaranya dalam. Imam Syafi’i itu bagaikan seorang mata-mata musuh yang luput yang menginap di rumahnya yang harus dijaga dengan seksama. Bahkan ketika imam Syafi’i sudah tidur dalam kamarnya, Zubaidah masih mencoba-coba mengintipnya. Persis seperti manusia yang patut dicurigai. Ia (Imam Syafi’i) shalat sendirian saja di kamarnya. Setelah selesai shalat tak terdengar zikir-zikirnya, tak ada do’anya, juga tidak ada shalat sunat. Baru bangkit dari mushala ia berdiri termenung sebentar, kemudian mengambilsebuah buku dari kantongnya lal menulis sesuatu.
Zubaidah benar-benar tak obahnya seperti orang yang kebingungan. Mengintip gerak-gerik tamu yang sebenarnya tak patut dicurigai.
Dilihatnya imam Syafi’i berbaring di atas tempat tidurnya sambil telentang, menengok ke loteng. Entah apa yang dipikrkannya. Barang kali juga enghitung-hitung sesuatu di loteng itu. Kemudian bangkit dan menuliskan sesuatu dalam buku kecilnya. Lalu berbaring-baring kembali. Kemudian bangkit lagi seperi orang yang krang akal. Kekaguman Zubaidah bertambah menciut.
Bersambung…..
Prakata Blog writer
Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat datang di blog saya. Sebagai mahasiswa biologi, saya belajar membuat tulisan dan berbagi ilmu dan share beberapa hal dengan para penikmat layanan online di internet. Salah satunya adalah melalui blog ini. Akhir kata saya ucapkan selamat menikmati blog ini.
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
-
Archives
- June 2010 (3)
- March 2010 (3)
- February 2010 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS